Sunday, December 25, 2011

Cara Menghitung O&O Cost Dalam Bisnis Alat Berat

Sahabat teknisi, kali ini saya akan menjelaskam sedikit mengenai bagaimana cara menghitung O&O Cost. Mungkin sahabat teknisi sudah ada yang pernah mendengarnya, benar...  O&O Cost ini sangat diperhitungkan dalam bisnis pertambangan atau pun rental alat berat. Karena O&O Cost ini juga merupakan tolok ukur keberhasilan bisnis alat berat kita. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasannya.
 

1. Owning Cost ( Biaya kepemilikan alat ).

» Dalam pembukuan dibebankan setiap jam dari unit, tidak melihat standby atau bekerja (sesuai jam dunia) –> Fixed cost

Dalam perhitungan cost internal
» Hanya dibebankan pada jam unit bekerja saja. Berguna untuk menghitung estimasi biaya atau perhitungan sesaat saja

» Salvage Value atau Nilai Sisa, adalah:
Estimasi harga unit setelah masa Depresiasi atau nilai penyusutannya nol (Berakhir)

Yang termasuk dalam komponen owning cost diantaranya adalah sebagai berikut :
  • Depreciation ( Penyusutan )
» Adalah biaya atau ongkos yang dikeluarkan akibat adanya keausan (penurunan) nilai barang karena pemakaian

» Biaya Penyusutan disebarkan sesuai dengan umur alat pertahun secara merata (straight line), sehingga pem-bebanan biaya tidak besar di awal proyek

Depresiasi
  • Interest ( Bunga bank – Selama masa peminjaman ).
  • Insurance ( Asuransi – Kecelakaan , mobilisasi ,dll ).
  • Taxes ( Pajak – Bea masuk alat ,balik nama , pajak kendaraan / alat berat ,dsb )
2. Operating Cost ( Biaya Operasi ).

» Adalah biaya yang dibutuhkan ketika alat/unit sedang bekerja atau agar unit dapat beroperasi

Yang termasuk dalam komponen operating cost diantaranya adalah sebagai berikut :
  • Fuel ( Sesuai dengan pemakaian perjam ).
  • Lube Oil ( Sesuai dengan pemakaian perjam ).
  • Grease ( Sesuai dengan pemakaian ).
  • Filter , etc  ( Sesuai dengan pemakaian )
  • Tire / undercarriage ( Dihitung terhadap umur ban atau undercarriage ).
  • Repair ( Biaya spare part dan labour cost-nya ).
  • Operator wages ( upah operator )
  • Special items / GET ( Cutting edge , poin ripper , tooth bucket , dll ).

Saturday, December 24, 2011

Pengetahuan Dasar Tentang Pemilihan Jenis Fuel

Diesel fuel merupakan hasil proses distilasi terhadap crude oil, dengan cara memanaskan crude oil. Gambar berikut menunjukkan proses distilasi sehingga diperoleh diesel fuel. Crude oil dituangkan dari bagian atas tower pemisah dan dipanaskan pada bagian bawah. Akibat proses pemanasan tersebut diperoleh-lah berbagai tingkatan hasil distilasi berdasar boiling point yang berbeda.

Diesel Fuel

Fuel yang digunakan pada diesel adalah light diesel Oil yang memiliki boiling point 240º C – 350º C dan dihasilkan dari proses distilasi setelah korosene. Fuel dari jenis light diesel oil ini sesuai dipergunakan untuk diesel engine kecil maupun besar kecepatan tinggi.

Hal – hal penting yang perlu diperhatikan pada spesifikasi fuel adalah :

1. Specific Gravity.
    Fuel dengan viskositas dan boiling point tinggi memiliki specific gravity yang lebih tinggi dari pada fuel dengan viskositas dan boiling point rendah. Pada temperatur konstan dan panjang langkah injeksi yang sama diperoleh jumlah bahan yang diijinkan lebih banyak dibanding dengan specific yang tinggi.

2. Flash Point.
Fuel dengan flash point rendah lebih mudah penyalaannya ( ignition ), perlu penanganan yang hati – hati terhadap fuel dengan point rendah. Flash point merupakan nilai yang lebih menunjukkan temperatur penyalaan bahan bakar.

3. Kandungan sulfur.
Kandungan sulfur pada fuel akan bereaksi dengan oksigen pada saat pembakaran sehingga menghasilkan Asam Sulfat ( Sulfuric Acid ).Asam sulfat ini akan bersifat korosif terhadap engine. Maksimum kandungan sulfur pada fuel 0.5 % dengan jadwal penggantian oli setiap 250 Hm. Bila kandungan sulfur pada fuel lebih tinggi dari 0.5 % maka jadwal penggantian oli harus dipercepat.

4. Pour Point.
Pour point menunjukkan temperatur terendah dimana fuel dapat mengalir ,bila pour point fuel  tinggi maka akan mengakibatkan fuel sulit mengalir sehingga mengakibatkan kemampuan starting pada daerah dingin menjadi buruk .

5. Cetane Number.
Cetane number merupakan nilai yang menunjukkkan kemudahan pembakaran fuel.Cetane number sangat menentukan kemudahan start dan pembakaran. Cetane number rendah mengakibatkan pembakaran didalam mesin buruk karena bisa menimbulkan terjadinya pembakaran tunda / delay periode ( detonasi ), sulit start, pada temperatur rendah tercampurnya oli oleh fuel yang tidak terbakar sedangkan bila angka Cetane number tinggi bisa mengakibatkan pembakaran mudah terjadi sehingga bisa menyebabkan terjadi knocking pada ruang bakar.

6. Ash Content.Ash pada fuel sebenarnya terdiri dari tiga tipe yaitu particle padat (solid particle),campuran garam inorganic (in organic salt solution) dan oli soluble organic. Rata–rata kandungan ash (ash content) pada fuel yang digunakan pada Diesel oil adalah 0.02–0.03 %.Kenaikan kandungan ash disebabkan oleh debu dan kotoran dari luar.

     Masing–masing produk engine memiliki spesifikasi fuel yang dipersyaratkan dalam penggunaan. Gunakan spesifikasi fuel sesuai rekomendasi dalam mengoperasikan engine.

Cara Penanganan Fuel     Fuel harus ditangani secara hati – hati agar tidak terjadi kontaminasi terhadap air,debu, kotoran atau minyak tanah.Selain itu :
- Jangan menggunakan pompa dan hose bergantian untuk diesel fuel kerosene dan oli.
- Bila fuel disimpan dalam drum maka :
  o Tempatkan drum terlindung dari sinar matahari atau panas langsung.
  o Tumpuk drum pada posisi mendatar dan posisikan tutup drum tertutup oleh fuel   (tutup
     fuel pada posisi jam 3 atau jam 9).
- Gunakan fuel tank untuk penyimpanan fuel dalam skala  besar dan pastikan  adanya drain valve ( kran pembuangan ) untuk membuang endapan kototran atau air.

Friday, December 23, 2011

Pengenalan Dasar CRI (Common Rail Injection)

Common rail injection systems are becoming increasingly common on today`s high-tech diesel engines. David Laidlaw, Komatsu Australia`s product manager, articulated dump trucks and large dozers, looks at the reasons why.

You may have started hearing the term `common rail injection` system in some recent television advertising for prestige diesel-engined cars.

Well, it`s also a term you`ll hear a lot more of in relation to earthmoving equipment.


Common rail injection (CRI) systems are delivering substantial benefits in terms of emissions and fuel consumption; they are seen by many as giving diesel engines the potential to become much cleaner than petrol engines in the future.

Komatsu, and a number of other heavy equipment manufacturers, are starting to introduce CRI system engines; in this article, I`ll look at how they work and what they mean for equipment owners and users.

First of all, what are the advantages of common rail injection systems?

In summary, they are as follows:
-- Cleaner / lower emissions and higher outputs due to high-pressure injection at in all usage ranges
-- More efficient combustion
-- Improved fuel efficiency
-- Reduction in noise and emission due to injection rate control
-- Improved performance due to increased flexibility in injection timing setting
-- Faster and smoother acceleration
-- Independent control of injection pressure in response to rotation and load.

How a CRI system works
Key CRI components are the supply pump, a `common rail`, an injector, sensors to detect running condition of engine and a computer (ECM) to control these devices.

A CRI system injects fuel to the engine at much higher pressures than conventional fuel injection systems. Typically, CRI injection pressures are around 20,000 psi, compared with 4000-5000 psi for a conventional system.

High-pressure fuel from the supply pump is distributed to an injector mounted on each cylinder by means of the common rail, with fuel injection quantity and timing determined by controlling the injectors.

Compared with conventional injection system characteristics, a CRI system has the following features:
-- Injected fuel quantity and injection pressure are independent of each other, and are definable for each and every engine operating condition, allowing optimum air/fuel mix formation
-- At the beginning of the injection process (during the ignition lag between the start of injection and the start of combustion), injected fuel quantities are very low.

Environmental benefits
Engine manufacturers have developed CRI systems as a method of getting diesel emission levels down to internationally specified standards.

You will have noticed that most new machines now being released have engines capable of meeting US and European `Tier II` emissions standards. In 2005, even more stringent `Tier III` standards will be introduced, and CRI engines will be essential to meet their requirements.

The end result is that equipment fitted with such engines produces substantially lower emissions than earlier models -- even those just a few years old.

The other major advantage is in fuel consumption -- which goes directly to a machine owner`s bottom line.

Typically, CRI engines provide fuel savings of 10-20% compared with equivalent sized earlier-model machines.

It has to be said that in Australia, CRI engines are not yet able to meet their full potential in terms of emissions levels and fuel consumption due to relatively high sulphur levels still allowed in Australian diesel.

Our sulphur PPM levels are significantly higher than those permitted in the US or Europe, but the federal government is about to introduce pricing incentives to encourage rapid take up of low sulphur fuel. High-sulphur fuels will be phased out in the next few years.

However, even with our high sulphur PPM levels, the high-pressure, clean-burning CRI engines are substantially more fuel efficient and less polluting. It`s just that the best is yet to come.

Tuesday, December 20, 2011

Kesempatan Berkarier Di KPC (Kaltim Prima Coal) Sangatta

PT Kaltim Prima Coal (KPC) incorporated in Indonesia with BP and CRA each holding 50% of the shares. KPC licensed to conduct exploration and mining of coal based on a Coal Contract of Works (CCOW) with the concession covering 90,706 ha. The Indonesian State Coal Company (PTBA) to receive 13.5% entitlement of all production.

PT Kaltim Prima Coal (KPC) operates a coal mine in Sangatta East Kalimantan and is one of the largest export coal mines in the world.

Currently, we are opening opportunities to join KPC for the following positions:

Supervisor - Contract Administration
Kalimantan Timur | Closing Date : 22 December 2011

Requirements:
* S1 degree in any related discipline with at least 3 years experience or Diploma with at least 5 years experience
* Computer literacy including knowledge in Advance Contract Administration system
* Sound knowledge of natures of contracts and contract drafting
* Knowledge of filing system, database system, and general contractual issues
* Excellent interpersonal and communication skill (oral & written) in both Bahasa Indonesia and English
* Good planning and organizing skill and good manpower management and supervision as required.
* Knowledge of Ellipse System (not essential

Responsibilities:
* Management of e-filling and hard copy document related to tender and contract to be classified in appropriate category with a clear identification for easy searching
* Monitoring circulation (in or out) of document in Library
* Registration and monitoring of document circulated in internal or external KPCfor approval and/or review
* Development and maintenance of contractual database such as contract value data, retention data, bond record, commercial info
* Preparing, inputting and maintenance of online Contract Administration data
* Involvement in improvement of tender and contract forms
* Development of report such as saving report, work load report, progress report, monthly report
* Development of report production tools such as spread sheet or other
* Supervision to Contract Officer(s)
* Development of contract document to be reviewed by Specialist Contract(s) and/or Superintendent Contract and/or other related management
* Drafting of letter, minutes of meeting, and simple minor contract variation
* Arrangement of invitation, meeting room booking, transportation, accommodation, and other to support meeting
* Contract expire date monitoring and updating
* Provide training on Advance Contract Administration to end user

How to Apply:
For those interested candidates, please forward your resume (including details of present positions & remuneration and your latest color photograph) to the following address:
Superintendent Recruitment
PT. Kaltim Prima Coal
PO Box 620 Balikpapan 76106 Kalimantan Timur
Or E-mail : recruitment@kpc.co.id
Please indicate the position code in the email subject

Konstruksi Dan Prinsip Kerja Starting Motor


Starting motor merupakan komponen vital dalam starting sistem. Karena tanpa adanya starting motor, engine tidak dapat hidup. Seperti halnya motor listrik lainnya, starting motor mengubah tenaga listrik battery menjadi tenaga mekanis putaran. Fungsistarting motor adalah untuk menggerakkan flywheel untuk  menghidupkan engine.

Konstruksi starting motor dapat dilihat pada gambar di bawah 


Prinsip kerjanya dapat dijelaskan sebagai berikut 


Ketika starting switch posisikan START, maka jalannya arus adalah :
   
  C - Hold in coil 1 - ground
  
  C - Pull in coil 2 - field coil - armature - ground

Kemagnetan yang terjadi mampu melawan spring 4, menarik plunger 3   sehinggaterminal B - M berhubungan. Saat terminal B - M berhubungan pull   in coil 2 tidak bekerja, sedangkan hold in coil bekerja untuk mempertahankan   agar terminal B - M tetap berhubungan.

Dengan adanya mekanisme shift lever, maka saat plunger bergerak pada   pinion gear akan bergerak maju. Sedangkan pada field coil timbul medan   magnet sehingga saat armature mendapat arus akan di dapat gerakan   berputar ( kopel ) untuk memutar engine.

Monday, December 19, 2011

Konstruksi Dan Cara Kerja Safety Relay Semiconductor Type

Masih pada pembahasan safety relay, kemarin saya telah share tentang safety relay yang dipakai pada jaman dahulu. Dimana bisa kita lihat bahwa safety relay old model konstruksinya masih sangat besar, karena didalamnya masih banyak terdapat kontaktor-kontaktor manual. Oleh karena itu, safety relay jenis old model ini sudah banyak ditinggalkan, kemudian beralih pada type yang lebih ringkas yaitu type semiconductor.

Konstruksi safety relay type semiconductor bisa dilihat pada gambar di bawah

Prinsip kerja safety relay semiconductor type dapat kita jelaskan sebagai berikut


- Menghidupkan engine
Saat starting switch diposisikan START , maka jalannya arus adalah

S - R4 - base Q2 - E sehingga Q2 menjadi ON, 
maka jalannya arus akan menjadi
ê 
S - L - colector Q2 - E sehingga L menjadi magnet
ê 
T akan tertutup, sehingga B dan C terhubung dan motor bekerja

- Setelah engine hidup, starting switch diposisikan START
Pada keadaan ini alternator sudah mulai mengahasilkan arus listrik, maka keadaannya menjadi 

R - R1 - Z - D2 - base Q1 - E sehingga Q1 ON jadi
ê 
arus yang dari S - R4 - base Q2 digroundkan 
sehingga base Q2 terhubung dengan E
ê 
Q2 menjadi OFF, sehingga T menjadi terbuka dan starting motor tidak bekerja

R2 dan C1 digunakan sebagai pengaman agar arus yang ke starting motor tidak segera terputus ketika alternator sudah mulai bekerja menghasilkan arus listrik.

Sedangkan Zener disini berfungsi untuk mencegah transistor Q1 ON sebelum tegangan yang dihasilkan alternator sesuai spesifikasi yang telah ditentukan.

Saturday, December 17, 2011

Konstruksi Dan Cara Kerja Safety Relay Old Model

Untuk kali ini saya akan membahas mengenai komponen ketiga dari starting sistem, yaitu safety relay. Dari kata nya saja kita tentu sudah tahu apa fungsi dari safety relay tersebut. Pada produk alat- alat besar, pada sistem start terdapat komponen safety relay. Namun, ada juga yang tidak dilengkapi dengan safety relay.  Adapun fungsi safety relay selain sebagai relay ( penghubung )   antarastarting switch dan starting motor, juga berfungsi untuk :

~  Mencegah mengalirnya arus ke starting motor jika starting switch diputar ke posisi START sementara engine sudah hidup.
~  Secara otomatis memutus arus ke starting motor sehingga starting motor lepas (disengaged ) dari engine flywheel ( setelah engine hidup ) sementara   starting switch masih di posisi START.
~  Mencegah arus mengalir ke starting motor jika starting switch diputar ke   posisistart ketika starting motor masih berputar karena gagal menghidupkan   engine ( untuksafety relay model lama ).
  
* Safety Relay ( Old Model ).
Konstruksi safety relay ( old model ) adalah sebagai berikut :


Adapun bekerjanya safety relay ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

 
- Menghidupkan engine
Bilastarting switch diposisikan START, maka jalannya arus adalah :
   
  S  -  C1  -  F  -  E
  ê 
  magnet
  ê
  Contact point D  -  A  -  B terhubung, contact point C terbuka.
 
- Setelahengine hidup, starting switch diposisikan START
Arus dari generator atau alternator masuk ke terminal A dan jalannya arus adalah :
 
A - C2 - R2 - E
ê   
magnet
ê  
E terbuka sehingga kemagnetan C1 hilang.

Pada kondisi ini, meskipun starting switch diposisikan START, starting motor   tidak akan bekerja.
- Starting motor berputar karena gagal menghidupkan engine
Starting motor bersifat sebagai generator, arus keluar dari terminal C. Jalannya arus adalah

C  -  C3  -  C4  -  E
ê
magnet
ê
F terbuka

Dengan demikian meskipun starting switch diposisikan START, starting motor tidak bekerja.